VUCA Ancaman atau Kesempatan?

Dalam sebuah organisasi VUCA merupakan situasi yang biasa terjadi sehingga organisasi terus melakukan inovasi dan menata strategi, namun dalam kondisi pandemi COVID-19 VUCA menjadi terasa lebih pekat sehingga memaksa melakukan perubahan.

Memasuki era perubahan digital yang begitu pesat, pandemi COVID-19 membuat kondisi semakin tidak menentu. Hal ini menjadikan intensitas VUCA semakin kuat. Bukan hanya disrupsi digital yang harus dihadapi.

Sejarah Istilah VUCA?

VUCA merupakan akronim dari Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity. Istilah yang muncul dalam teori kepemimpinan Warren Bennis dan Burt Nanus pada 1987, yang kemudian digunakan dalam pelatihan kepemimpinan militer di US Army War College untuk menggambarkan situasi politik-keamanan yang berubah cepat di era 1990-an.

Istilah VUCA semakin populer dan digunakan dalam pelatihan kepemimpinan bisnis sebagai salah satu keterampilan yang harus dikuasai dalam perencanaan strategis.

Apakah VUCA ?

Volatility
Istilah ambigu yang paling sering menyiratkan risiko atau ketidakpastian tentang pergerakan perubahan.

Seperti kita ketahui, ketika dunia usaha sedang beradaptasi dengan era digital ditahun 2020 ini dikagetkan dengan munculnya pandemi.

Uncertainty
Masa depan yang tidak bisa diprekdiksi penuh ketidakpastian, jika kita mundur ke beberapa tahun lalu tidak akan pernah terpikir perubahan digital yang begitu seolah kita baru keluar dari mesin waktu.
Ketidak pastian ini membuat pengalaman masa lalu tidak lagi relevan memprediksi probabilitas dan sesuatu yang akan terjadi.

Complexity
Dunia modern lebih kompleks dari sebelumnya. Masalah dan akibat lebih berlapis, berjalin berkelindan, dan saling memengaruhi. Situasi eksternal yang dihadapi para pemimpin bisnis semakin rumit.

Ambiguity
Lingkungan bisnis semakin membingungkan, tidak jelas, dan sulit dipahami. Setiap situasi dapat menimbulkan banyak penafsiran dan persepsi.

VUCA adalah tantangan yang harus dihadapi setiap organisasi, yang menyangkut disrupsi, pergeseran pasar, perubahan perilaku konsumen, serta persaingan bisnis yang semakin ketat.

Kepemimpinan tradisional sudah ketinggalan zaman, terlalu lamban, dan tidak efektif untuk lingkungan yang bergejolak dan terus berubah. Karena itu, para pemimpin organisasi memerlukan model kepemimpinan baru yang agile untuk menghadapi empat VUCA tersebut.

VUCA merupakan situasi yang tidak bisa dihindari, Kita dapat mengurangi dampaknya, atau bahkan menggunakannya untuk keuntungan organisasi.

Kepemimpinan di era VUCA

Kunci mengelola organisasi dalam lingkungan ini adalah memecah VUCA menjadi empat bagian, dan mengidentifikasi situasi yang mudah berubah, tidak pasti, kompleks, atau ambigu. Setiap jenis situasi memiliki penyebab dan penyelesaiannya sendiri, jadi Anda harus berusaha menanganinya satu per satu.

Bob Johansen, dari Institute for the Future, mengadaptasi VUCA untuk dunia bisnis dalam bukunya tahun 2009, Leaders Make the Future. Ia mengusulkan kerangka kerja yang dapat digunakan untuk menanggapi ancaman VUCA, yang disebut VUCA Prime, yaitu Vision, Understanding, Clarity, Agility.

Johansen menyarankan pemimpin organisasi melakukan hal berikut:

Hadapi Volatility dengan Vision

  • Terima dan rangkul perubahan sebagai bagian dari lingkungan kerja Anda yang konstan dan tidak dapat diprediksi. “Jangan melawannya.”
  • Buat pernyataan yang kuat dan menarik tentang tujuan dan nilai tim, dan kembangkan visi bersama yang jelas tentang masa depan. Pastikan Anda menetapkan tujuan fleksibel yang dapat Anda ubah bila perlu. Ini membantu menavigasi situasi yang tidak menentu dan asing.

Atasi Uncertainty dengan Understanding

  • Berhenti sejenak untuk mendengarkan dan melihat sekeliling. Ini membantu Anda memahami dan mengembangkan cara berpikir dan bertindak baru sebagai respons terhadap ancaman ketidakpastian.
  • Jadikan investasi, analisis dan interpretasi bisnis, dan competitive intelligence (CI) sebagai prioritas, sehingga Anda tidak ketinggalan. Tetap up to date dengan berita industri, dan dengarkan pelanggan Anda untuk mencari tahu apa yang mereka inginkan.
  • Tinjau dan evaluasi kinerja Anda. Pertimbangkan dengan baik langkah yang akan Anda lakukan.
  • Lakukan simulasi dan eksperimen dengan situasi, sehingga melatih Anda untuk bereaksi terhadap ancaman serupa di masa depan.

Pecahkan Complexity dengan Clarity

  • Berkomunikasi secara jelas dengan tim Anda. Dalam situasi yang kompleks, komunikasi yang jelas membantu mereka memahami arah tim dan organisasi.
  • Kembangkan tim dan dorong kolaborasi. Situasi VUCA seringkali terlalu rumit untuk ditangani oleh satu orang. Jadi, bangun tim yang dapat bekerja secara efektif dalam lingkungan yang bergerak cepat.

Lawan Ambiguity dengan Agility

  • Dorong fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, dan ketangkasan. Buat rencana ke depan, tetapi bersiaplah untuk mengubahnya.
  • Pekerjakan dan promosikan orang-orang yang berhasil di lingkungan VUCA. Mereka umumnya kolaboratif dan memiliki keterampilan berpikir kompleks.
  • Dorong karyawan Anda untuk berpikir dan bekerja di luar area fungsional mereka. Rotasi pekerjaan dan pelatihan silang bisa menjadi cara terbaik untuk meningkatkan ketangkasan tim.
  • Hindari memimpin dengan mendikte atau mengendalikan mereka. Kembangkan lingkungan kolaboratif dan konsensus. Dorong debat, perbedaan pendapat, dan partisipasi dari semua orang.
  • Kembangkan “budaya ide”. Ini jenis budaya yang energik dan dapat mengubah tim dan organisasi menjadi lebih kreatif dan gesit.
  • Apresiasi anggota tim yang menunjukkan Vision, Understanding, Clarity, Agility. Biarkan orang-orang melihat perilaku seperti apa yang Anda hargai.

(Sumber Glints:Mengenal VUCA: Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity )